Green beans : Gardening Guide - Tips to Growing Backyard Green Beans

One of my greatest joys in life is walking into the garden and picking a bucketful of beautiful, fresh
green beans. Then taking them directly to a pot of boiling water in the kitchen. Nothing like it.
Three days later, I can do it again. And so can you with these tips.

First, you need to decide what to plant. The two main choices are bush beans or pole beans. I prefer
pole beans because they are easier to pick, have better flavor and have less problems from pests and
disease.

Pole beans, of course, require something to climb on and, therefore, tend to take up space.
But, if you think limited space prevents you from having pole beans, guess again. You can have enough beans
for a family of four in a six square foot area.

A method I use is to take three six foot long wooden poles (don't use metal) and place them in a tripod
arrangement, tying them together at the top. It only takes about a three foot area, so you can have
two of them in a six foot plot.

Plant the beans indoors 4-6 weeks before the last frost, in peat pots. Do not use pots that require
you to remove the plant from the pot to transplant. The peat pots can be planted directly in the garden
without disturbing the roots.

Prepare the soil by adding compost (I prefer well-aged manure) as soon as you can work the soil
in the spring. Most important!!! Plant your beans in a spot that gets at least 6-8 hours of direct
sun each day. Beans love the sun.

As the beans send out long shoots, train them to climb the poles if they do not do it own their own
(generally, they will). Keep them watered but not soaked. Fertilize once when the plants start
climbing the poles.

There are many varieties that thrive in practically any summer climate, as long as you have
about six weeks of over 70 degree days. I like the "bluelake" for it's ease of growth, good
flavor and high yield.

So, give it a try this year. Then when you smell those fresh beans that you grew, cooking in the kitchen,
you, too, will experience one of the great joys of life.


Article Source: http://EzineArticles.com/?expert=Ken_Miller



Yuerman kaharuddin, sp work the soil potential mung beans for the development and the utilisation of mung beans mung beans are one of the second crop crops that is made an effort to get by the farmer in the sand subdistrict penyu including in the kind legiminosae, and occupi the third level after the corn crop and the soybean, nationally the request against quite high mung beans and tend to increase from the year to the year, semetara the increase in the area in the area plant still relative low, this is caus by the farmer often experienc the difficulty of getting the quality se and is not available when that is needed, mung beans had several surpluses if compar with the other legume crop like, 1) kept towards the drought, 2) kept against hamam and the illness, 3) could dipanen in time relative short-liv 55-60 days, 4) the method plant and his treatment relative is easy, 5) the risk of the failure of the small harvest .6) the high selling price and stable, 7) could be consum by means of the processing that is easy, a, mung beans had the potential to be develop mung beans in a manner


Yuerman kaharuddin, sp bercocok tanam kacang hijau


potensi pengembangan dan pemanfaatan kacang hijau kacang hijau merupakan salah satu tanaman palawija yang diusahakan petani di kecamatan pasir penyu termasuk dalam jenis legiminosae, dan menempati peringkat ketiga setelah tanaman jagung dan kedelai. Secara nasional permintaan terhadap kacang hijau cukup tinggi dan cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Semetara peningkatan luas areal tanam masih relative rendah, hal ini disebabkan oleh petani sering mengalami kesulitan untuk mendapatkan benih yang berkualitas dan tidak tersedia pada waktu yang dibutuhkan. Kacang hijau mempunyai beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan tanaman kacang-kacangan lainnya seperti, 1) tahan terhadap kekeringan, 2) tahan terhadap hamam dan penyakit , 3) dapat dipanen dalam waktu relative singkat umur 55-60 hari, 4) cara tanam dan perlakuannya relative mudah, 5) resiko kegagalan panen kecil ,6) harga jual tinggi dan stabil, 7) dapat dikonsumsi dengan cara pengolahan yang mudah. A. Kacang hijau berpotensi untuk dikembangkan kacang hijau secara umum sudah lama dibudidayakan di indonesia, khususnya oleh para petani di kabupaten indragiri hulu propinsi riau, baik pada lahan kering, tegalan maupun pada lahan sawah berigasi pada musim-musim tanam yang disesuaikan. Peningkatan produksi kacang hijau dilakukan dengan cara memperbaiki kultur tehnis, dan mengupayakan penggunaan varitas unggul yang produksinya tinggi dan masak serempak, serta mengupakan usaha-usaha pengelolaan kegiatan lepas panen secara optimal. Dalam usaha kegiatan pengembangan usaha budidaya kacang hijau terlebih dahulu harus dipertimbangkan kondisi lahan dan varitas yang digunakan . Namun sebagian besar produksi yang dihasilkan sering mengalami kesenajangan hasil dari kegiatan uji coba, hal ini disebabkan oleh tingkat pengelolaan oleh petani sangat rendah dan bervariasi. Meskipun peningkatan produksi melalui peningkatan produktivitas lahan masih rendah, namun selama ini peningkatan produksi kacang hijau diarahkan dengan meningkatkan luas areal tanam . Berkaitan dengan itu pengembangan kacang hijau ditetapkan prioritas berdasarkan potensi lahan yang diusahakan dan resiko kegagalan antara lain dalam mengatur pola tanam dan jadwal tanam yang tepat terutama pada lahan-lahan yang akan diusahakan budi daya tanaman kacang hijau. B. Pemanfaatan kacang hijau kacang hijau merupakan sumber protein vitamin dan mineral yang penting bagi manusia . Dengan tersedianya potensinya untuk tanaman kacang hijau dapat mengisi kekurangan protein pada umumnya, sekaligus dapat meningkatkan pendapatan petani. Di indonesia dan di banyak negara asia lainnya, tidak jarang kacang hijau dijadikan makanan sehari-hari . Kandungan gizinya cukup baik, karena kacang hijau mengandung vitamin (terutama vitamin b1 ) protein lemak dan karbohidrat. Setiap 100 gram biji kacang hijau mengandung vitamin b1, vitamin a dan vitamin c. Kadar vitamin kacang hijau sanga tergantung dari paa bentuk olahannya . Dalam bentuk taoge, kandungan vitaminnya sudah sangat berkurang dan hamper tidak tersisa lagi dalam bentuk tepung . Hal ini disebabkan oleh vitamin yang terkandung di dalamnya (khususnya b1) mudah larut dalam air . Padahal dalam pembuatan taoge dan tepung diperlukan banyak air, karena alasan itulah dianjurkan agar air yang digunakan untuk memasak kacang hijau jangan sekali-kali dibuang. Penggunaan kacang hijau sangat beragam dari olahan sederhana hingga produk olahan tehnologi industri. Selama ini permintaan terhadap kacang hijau termasuk stabil karena penggunanya kontinu. Produk terbesar hasil olahan kacang hijau di pasaran adalah dalam bentuk taoge (kecambah) , bubur, makanan bayi, industri minuman, kue, dan lainnya . Mesipun demikian kacang hijau dalam bentuk tepung juga banyak digunakan dimana-mana . Selain digunakan sebagai bahan makanan kacang hijau masih mempunyai beberapa manfaat lainnya. Penggunaan kacang hijau oleh petani produsen belum banyak diteliti secara formal . Namun dioperkirakan lebih dari 90% hasil yang diperoleh langsung dijual. Hingga saat ini belum ada studi yang mempelajari porsi penggunaan kacang hijau untuk bermacam-macam produk. Akhirnya dapat dismpulkan bahawa penggunaan kacang hijau ini masih dapat dikembangkan di indonesia umumnya di kabupaten indragiri hulu khususnya terutama untuk membuat hidangan baru dalam pengelolaan dan penggunanya. Mengenal tanaman kcamng hijau tanaman kacang hijau merupakan salah satu tanaman semusim yang berumur pendek (55-60 hari ) . Tanaman kacang hijau berbatang tegak dengan ketinggian sangat bervariasi , antara 30-60 cm, tergantung varitasnya. Cabangnya menyamping pada batang utama, berbentuk bulat dan berbulu . Warna batang dan cabangnya ada yang berwarna hijau ada juga yang ungu . Daunnya trifoliate (terdiri dari tiga helaian) dan letaknya berseling . Tangkai daunnya cukup panjang, lebih panjang dari daunnya , warna daunnya hijau muda sampai hijau tua . Bunga kacang hijau berwarna kuning , tersusun dalam tandan , keluar pada cabang serta batang dan dapat menyerbuk sendiri . Polong kacang hijau berbentuk silindris dengan panjang antara 6-15 cm dan biasanya berbulu pendek. Sewaktu muda polong berwarna hijau dan setelah tua berwarna hitam atau coklat, setiap polong berisi 10-15 biji. Biji kacang hijau lebih kecil jika dibandingkan dengan biji kacang-kacangan lainnya, warna bijinya kebanyakan berwarna hijau kusam atau hijau mengkilap, beberapa ada yang berwarna kuning, coklat dan hitam. Tanaman kacang hijau berakar tunggang dengan cabang akar pada permukaan . Pertumbuhan kacang hijau pada fase vegetatif relative lambat, keadaan ini dianggap sebagai penyebab potensi hasilnya rendah , karena bagian tanaman yang berfungsi melakukan fotosintesis, seperti daun masih kurang . Pertumbuhan lebih cepat bersamaan dengan mulainya fase generatif uyang berarti pada saat mulai berbunga dan pembentukan polong. Salah satu upaya dalam meningkatkan produksi kacang hijau ialah dengan melalui kegiatan dalam bidang pemuliaan tanaman dengan melakukan penelitian dan pengembangan tanaman kacang hijau . Beberapa varitas unggul kacang hijau diantara teknologi yang dihasilkan melalui penelitian, varietas unggul memegang peranan yang menonjol, baik dalam kontribusinya terhadap peningkatan hasil per satuan lugs lahan clan waktu maupun sebagai salah satu kom¬ponen utama dalam pengendalian hama dan penyakit, minimal dapat menekan penggunaan pestisida untuk memberantas/mence¬gah serangan hama dan penyakit tersebut. Varietas unggul pada umumnya berumur lebih genjah bila dibandingkan dengan varietas lokal. Umur yang pendek sangat penting artinya dalam menyusun pola pertanaman sepanjang ta¬hun, misalnya dapat memanfaatkan air/kelembapan tanah setelah dalam pola, misalnya padi—padi—kacang hijau, atau pada lahan kering/tegalan dalam pola padi gogo—kacang hijau, atau jagung¬kacang hijau. Bila dibandingkan, penanaman dengan varietas lokal hanya dapat diperoleh satu atau dua pertanaman dalam setahun. Untuk menghasilkan suatu varietas unggul dengan sifat-sifat yang diinginkan (misalnya umur pendek, hasil tinggi, responsif terhadap pemupukan, tahan terhadap tekanan lingkungan, tahan terhadap hama penyakit tertentu) perlu ditempuh prosedur pene¬litian yang sistematik. Dalam hal ini koleksi plasma nutfah yang luas memegang peranan utama. Koleksi ini antara lain meliputi varietas lokal dengan sifat-sifat spesifik, varietas/galur introduksi dari negara lain, berta varietas unggul dan galur harapan nasional. Setelah ditetapkan sifat-sifat yang diinginkan, varietas yang akan digunakan sebagai donor kemudian ditelaah atau dipilih. Berdasarkan hal ini, persilangan kemudian direncanakan clan dilaksanakan. Galur-galur hasil persilangan yang telah diperoleh dipindahkan ke petakan-petakan untuk diobservasi dan dievaluasi lebih lanjut. Galur-galur yang paling menonjol kemudian dita¬nam dalam percobaan daya hasil di beberapa lokasi untuk die¬valuasi pertumbuhan clan daya hasilnya pada lingkungan yang berbeda. Galur-galur yang terpilih disebut "galur harapan" ke¬mudian dimasukkan dalam pengujian multilokasi yang melibat¬kan banyak lokasi dan beberapa musim. Pengujian di lahan petani juga dilakukan melalui kerja lama dengan direktorat jenderal pertanian tanaman pangan. Hasil dari seluruh pengujian ini dievaluasi dan diserahkan kepada tim pelepas varietas dari badan benih nasional untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam pelepasan varietas unggul baru. Setelah ada persetujban bahwa suatu varietas dapat dilepas sebagai varietas unggul untuk digunakan oleh petani secara luas, benih segera diperbanyak yang dimulai dengan produksi benih dasar. Benih tersebut kemudian disalurkan kepada balai benih yang akan menyebarkannya kepada petani sebagai benih sebar. Untuk menghasilkan suatu varietas unggul, mulai dari persilangan sampai dinyatakan sebagai varietas unggul baru dan disebarkan ke petani slap tanam diperlukan waktu sekitar lima tahun. Koleksi kacang hijau yang ada di puslitbangtan terdiri dari varietas-varietas atau galur-galur yang merupakan tipe tanaman dengan keragaman yang tinggi. Tinggi tanaman antara 30-110 cm. Warna biji pada beberapa varietas biasanya hijau, tetapi ada juga yang cokelat atau kekuning-kuningan. Umur tanaman ini berkisar antara. 50-120 hari, tergantung lama penyinaran clan temperatur tumbuh. Umur setiap varietas kacang hijau berbeda. Produksinya pun berbeda untuk masing¬masing varietas, walaupun ditanam di lingkungan yang sama. Di lingkungan yang balk, produksi maksimumnya mencapai 2.500-2.800 kg/ha. Sampai scat ini kebanyakan petani masih menanam kacang hijau varietas lokal yang produksinya relatif rendah, 500 kg/ha. Di samping produktivitasnya rendah, masaknya polong juga tidak serempak sehingga menyulitkan pemanenan. Panen biji kacang hijau biasa dilakukan dengan pemetikan polong demi polong yang memerlukan banyak waktu dan tenaga. Untuk itu, perlu dipilih varietas yang polongnya dapat masak serempak, contohnya siwalik (3-5 kali panen) dan bhakti (2 kali panen). Beberapa varietas yang dianjurkan dan produktivitasnya cukup tinggi adalah sebagai berikut. 1. Varietas siwalik varietas ini merupakan galur murni dari jeneponto yang diseleksi di kebun percobaan muneng, probolinggo. Tanaman ini agak rendah dan tumbuh tegak. Batangnya khas clan berbulu. Hipokotil dan kotiledonnya berwarna merah, sedangkan epiko¬tilnya berwarna hijau kemerahan. Warna batang clan tangkainya hijau. Permukaan bawah sendi daunnya berwarna hijau, sedang¬kan permukaan atasnya berwarna merah tua kehijauan. Pada tangkai daun terdapat bulu yang jarang. Urat daunnya berwarna merah. Bunganya berwarna kuning. Polongnya bulat panjang, berbulu lebat, berwarna merah, dan kalau masak mudah pecah. Bijinya bulat besar, dan berwarna hijau kusam. Berat 1.000 butir biji sekitar 56 g. Umur awal sampai akhir panen antara 80-100 hari. Mutu bijinya baik, tetapi tidak tahan hama bubuk (brun¬chus sp.) Bila disimpan agak lama. Kandungan proteinnya 23,6%. 2. Varietas arta ijo varietas ini merupakan galur murni dari sumenep yang diseleksi di kebun percobaan muneng, probolinggo. Tanamannya lebih rendah clan lebih kecil dari varietas siwalik. Hipokotil clan kotiledonnya berwarna merah, sedangkan epikotilnya hijau kemerahan. Batangnya berbulu jarang, sedangkan tangkai daun¬nya berbulu lebat. Warna batang clan tangkai daunnya sedikit kemerahan. Bagian bawah sendi daun berwarna hijau tua clan sebelah atasnya merah tua kehijauan. Urat daunnya berwarna merah. Bunganya berwarna kuning. Polongnya lebih pendek dibanding varietas siwalik. Bijinya berwarna hijau kusam. Berat 1.000 biji sekitar 46 g. Umur awal clan akhir panen antara 75-99 hari. Mutu bijinya baik, tetapi tidak tahan terhadap hama bubuk (brunchus sp.) Bila disimpan agak lama. Kandungan proteinnya 18,3% dan vitamin bi 0,07 mg/100G. 3. Varietas bhakti (no. 116) varietas ini merupakan hasil introduksi dari srilanka kemudian diseleksi di kebun percobaan muara, bogor. Tinggi tanamannya antara 50-75 cm. Hipokotil dan kotiledonnya berwarna merah, sedangkan epikotilnya hijau kemerahan. Batangnya berwarna hijau, keras, dan berbulu pendek. Tangkai daunnya berwarna hijau kemerahan dan berbulu jarang. Permukaan bawah sendi daun berwarna hijau. Urat daunnya berwarna merah tua ke¬hijauan. Tanaman ini berbunga pada umur 35 hari. Polong tua berwarna cokelat, bulunya jarang, dan tidak mudah pecah, walaupun pada musim kering. Varietas bhakti. Bijinya tidak tahan hama bubuk bila disimpan agak lama umur panennya antara 65-70 hari. Polongnya masak serempak dengan biji hijau mengilap. Berat 1.000 biji kurang lebih 60 g. Mutu bijinya baik, tidak ada biji keras (hard seed) clan cepat lunak kalau direbus. Ticlak tahan hama bubuk (brun¬chus sp.) Kalau disimpan agak lama. Kandungan proteinnya 20,4%. 4. Varietas no. 129 varietas ini berasal dari filipina. Tinggi tanaman kurang lebih 50 cm. Hipokotil clan epikotilnya berwarna hijau. Batang, tangkai dawn, clan permukaan bawah sendi daunnya berwarna hijau. Tanaman ini clapat berbunga pacla umur kurang lebih 29 hari. Polong tua berwarna hitam. Umur panen kurang lebih 60 hari. Masaknya polong hampir bersamaan. Warna bijinya hijau tua mengilap. Berat 1.000 butir biji kurang lebih 65 g. Kualitas bijinya baik, tidak ada biji keras (hard seed) waktu direbus. Kandungan proteinnya 21,6%. Varietas no. 129. Kualitas bijinya baik, tidak ada biji keras 5. Varietas merak varietas ini berasal dari galur mb 423 (filipina) yang dimur¬nikan di kebun percobaan cikeumeuh oleh pusat penelitian dan pengembangan tanaman pangan. Bogor. Tanaman ini ber¬batang tegak dan kokoh dengan tinggi sedang. Daunnya sed ikit berbulu dan lebar. Polongnya berwarna hitam dan terletak di atas tajuk sehingga memudahkan panen. Masaknya polong hampir serempak, terutama bila ditanam di musim kemarau. Varietas ini kurang tahan terhadap penyakit scab. Sampai saat ini memang belum berhasil ditemukan varietas kacang hijau yang tahan terhadap penyakit ini. Varietas merak. Polongnya masak serempak 6. Varietas nuri varietas ini berasal dari avrdc (asian vegetable research and development center), taiwan, dengan nomor galur pr 925. Hampir di semua lokasi, varietas nuri memberikan hasil sangat menonjol. Tanamannya tegak, dapat mencapai 69 cm, dengan warna batang hijau kemerahan. Bunganya berwarna kuning kelabu clan keluar pada umur 32 hari. Polong yang masak berwarna hitam, panjang 8 cm, clan jumlah bijinya 12. Bijinya berwarna hijau mengilap. Berat 1.000 butir biji 36 g. Varietas ini lebih tahan terhadap penyakit bercak daun (cercospora canescens) dan karat. Umur panennya 58 hari dengan kisaran hasil 1.200-1.600 kg/ha. Panen dapat dilakukan dua kali. 7. Varietas betet varietas ini merupakan hasil seleksi dari keturunan persi¬langan (mb 129 x siwalik) dengan nomor induk c8-4-10. Batang¬nya berwarna hijau dengan tinggi tanaman 45 cm. Varietas ini berbunga pada umur 35 hari. Bunganya berwarna kuning. Polongnya yang telah tua berwarna hitam, sedangkan bijinya berwarna hijau. Berat 1.000 butir biji sekitar 58 g. Sifat lain dari varietas betet adalah masak serempak, polong tidak mudah pecah, tahan rebah, tahan lalat bibit, toleran terhadap penyakit kudis, dan peka terhadap penyakit bercak daun serta embun tepung. Produktivitasnya antara 1.200-1.600 kg/ha clan dapat dipanen pada umur 60 hari. 8. Varietas manyar varietas manyar juga berasal dari avrdc. Produktivitas varietas ini 30-40% lebih tinggi dari varietas lokal. Tanaman ini tahan terhadap penyakit bercak daun (cercospora canescens) clan penyakit karat (uromyces sp.), tetapi kurang tahan dengan hama pemakan daun, khususnya spodoptera sp. Dan hama calandra (colosobruchus). Batang tanaman ini tegak (tinggi 65 cm) clan berwarna hijau kemerahan. Bunganya berwarna kuning kelabu clan muncul pada umur 31 hari. Polongnya berwarna hitam (setelah masak) panjang 8 cm, jumlah bijinya 12. Bijinya ber¬warna hijau kusam, cepat lunak bila direbus, clan tak ada biji kerasnya. Berat 1.000 butir biji 46 g. Varietas ini dapat dipanen pada umur 58 hari dengan kisaran hasil 1.200-1.600 kg/ha. 9. Varietas gelatik varietas ini merupakan seleksi varietas introduksi dari avrdc dengan nomor induk vc-78146. Warna batang clan daunnya hijau, sedangkan warna bunganya kuning. Tinggi tanaman dapat men¬capai 45 cm. Varietas ini berbunga pada umur 35 hari. Polong yang telah masak berwarna hitam dan bijinya berwarna hijau kusam. Kadar proteinnya 20% clan kadar lemak 1,7%. Berat 1.000 butir biji 60 g. Polong masak serempak clan tidak mudah pecah. Umur panennya 58 hari dengan kisaran hasil 1.500¬1.800 kg/ha. Tanaman ini tahan terhadap penyakit bercak daun clan rhizoctonia. 10. Varietas walet varietas ini merupakan hasil seleksi varietas introduksi dari avrdc dengan nomor induk av 7904-1-2B. Tinggi tanaman varietas walet. Tahan penyakit bercak daun dan embun tepung peranan varietas thiggid 45 cm dengan warna batang hijau. Bunganya berwarna kuning dan muncul pada umur 35 hari. Polong yang telah masak berwar¬na hitam dan bijinya berwarna hijau mengilap. Varietas ini dapat dipanen pada umur 58 hari dengan kisaran hasil 1.500-2.000 kg/ ha. Kadar protein dan lerhaknya masing-masing 22% dan 1,7%. Polong masak serempak dan tidak mudah pecah. Tanamannya tahan terhadap penyakit bercak daun, embun tepung, dan agak tahan penyakit rhizoctonia. 11. Varietas parkit varietas ini berasal dari filipina dengan nomor induk cr 47- 9-13-4-2B. Batangnya berwarna hijau muda, sedangkan hipokotil dan daunnya (permukaan atas dan bawah) berwarna hijau. Tinggi tanaman 40 cm dan dapat dipanen pada umur 56 hari dengan produksi rata-rata 1.500-1.800 kg/ha. Polong yang telah tua berwarna hitam, sedangkan bijinya berwarna hijau mengilap. Polong masak serempak dan tidak mudah pecah. Varietas ini tergolong tahan terhadap penyakit embun tepung. 12. Varietas merpati varietas ini berasal dari galur vr 8608-1-b, introduksi dari avrdc. Daunnya berwarna hijau tua dan bunganya kuning, muncul pada umur 35 hari. Rata-rata tinggi tanaman mencapai 57 cm. Polongnya masak serempak pada umur 58 hari dan tidak mudah pecah. Polong yang sudah masak berwarna hitam, sedangkan bijinya hijau mengilap. Berat 1.000 butir biji 61 g. Kisaran produksinya sekitar 1.400 kg/ha. Varietas ini tahan ter¬hadap penyakit bercak daun (cercospora sp.) Dan embun tepung (erysiphe polyqom). 13. Varietas camar varietas ini mempunyai nomor galur mi-5/psj. Daunnya ber¬warna hijau muda, sedangkan batang dan tangkai daunnya hijau. Polongnya terletak di atas kanopi, tidak mudah pecah, jika sudah tua berwarna hitam. Bijinya hijau mengilat, berukuran kecil, dan cepat lunak jika direbus. Rata-rata hasil per hektar 1,0-2,0 ton biji bersih. Varietas ini tahan terhadap bercak cokelat (cercospora sp.), cukup tahan terhadap penyakit kudis (uromyces sp.). Selain itu, camar juga toleran terhadap lahan masam dan lahan asin. 14. Varietas kenari varietas ini merupakan introduksi dari avrdc taiwan, ber¬asal dari galur vc.3012B. Tinggi tanaman rata-rata mencapai 55 cm. Daunnya berwarna hijau, bijinya hijau mengilat. Polong masak pada umur 60-65 hari. Rata-rata hasil per hektar yaitu 1,38 ton. Varietas ini agak tahan terhadap penyakit bercak daun dan toleran penyakit karat. 15. Varietas perkutut varietas ini merupakan introduksi dari avrdc taiwan, ber¬asal dari galur vc 2750 dengan nomor induk mlg 1025. Warna batang dan daunnya hijau tua, periode berbunganya serempak. Tanaman berbunga 50% pada umur 36 hari, sedangkan umur panennya 60 hari. Dalam satu tanaman terdapat 12 polong; satu polong rata-rata mengandung 12 biji. Bijinya berwarna hijau mengilat dengan ukuran 5 g/100 biji. Produktivitasnya 1,50 ton/ ha. Varietas ini tahan terhadap bercak daun clan embun tepung. 16. Varietas murai varietas introduksi ini berasal dari institut plant breeding, filipina dengan nomor incluk mlg 1026 clan nomor galur evo 947. Warna batangnya hijau tug, sedangkan warna daunnya hijau muda. Periode berbunganya serempak, tanaman berbunga 50% pada umur 35 hari. Varietas ini dapat dipanen pada umur 63 hari. Jumlah polong per tanaman sebanyak 13, sedangkan jumlah biji per polong rata-rata sebanyak 11. Biji kacang hijau varietas murai berwarna hijau kusam dengan ukuran 6 g/100 biji. Produktivitas 1,50 ton/ha. Varietas ini tahan terhadap penyakit bercak daun. Budidaya tanaman kacang hijau prospek pengembangan kacang hijau di indonesia masih mempunyai peluang yang sangat besar clan tersebar di rbagai provinsi. Hal ini terlihat dari jumlah lugs lahan sawah maupun lahan kering yang cukup besar, tetapi yang diusahakan untuk tanaman palawija masih relatif seclikit. Untuk mewujudkan upaya peningkatan produksi kacang hijau, perlu dilakukan sistem budi daya yang benar. Tentu saja pengeta¬huan mengenai syarat tumbuh tanaman kacang hijau harus dipahami lebih dahulu. A. Syarat tumbuh kacang hijau merupakan tanaman tropis yang menghenclaki suasana pangs selama hidupnya. Tanaman ini dapat ditanam di dataran rendah hingga ketinggian 500 m di atas permukaan laut. Di jawa, tanaman ini banyak ditanam di daerah pasuruan, probolinggo, bondowoso, mojosari, jombang, pekalongan, banyumas, jepara, cirebon, subang, clan banten. Selain di jawa, tanaman ini juga ditanam di madura, sulawesi, nusa tenggara, clan maluku. Tanaman kacang hijau dapat tumbuh di daerah yang curah hujannya rendah dengan memanfaatkan sisa-sisa kelembapan pada tanah bekas tanaman yang diairi, misalnya padi. Tanaman ini tumbuh baik pada musim kemarau. Pada musim hujan, pertumbuhan vegetatifnya sangat cepat sehingga mudah rebah. Hambatan utama penanaman pada musim hujan adalah penyakit yang menyerang dawn dan polong. Kacang hijau dapat tumbuh di segala macam tipe tanah yang berdrainase baik. Namun, pertumbuhan terbaiknya pada tanah lempung biasa sampai yang mempunyai bahan organik tinggi. Tanah yang mempunyai ph 5,8 paling ideal untuk pertum¬buhan kacang hijau, sedangkan tanah yang sangat asam tidak baik karena penyediaan makanan terhambat. Kacang hijau menghendaki tanah dengan kandungan hara (fosfor, kalium, kalsium, magnesium, clan belerang) yang cukup. Unsur hara ini penting untuk meningkatkan produksinya. B. Pola tanam status tanaman kacang hijau dalam sistem usaha tani pada umumnya masih dianggap sebagai tanaman tambahan sehingga penanamannya dilakukan pada musim tanam kedua atau ketiga pada saat hujan tidak mencukupi untuk usaha tani tanaman lain. Kacang hijau kebanyakan ditemui dalam pertanaman cam¬puran. Tanaman ini memberikan hasil yang baik jika ditanam secara tumpang gilir dengan jagung dan tebu. Di beberapa tempat juga ada yang ditanam secara monokultur. Di asia, tanaman ini sangat cocok untuk rotasi tanaman setelah padi sawah. Alasan kuatnya adalah untuk memanfaatkan sisa-sisa kelembapan tanah pada bekas tanaman padi. Dengan sifatnya yang relatif tahan kering, kacang hijau sangat menguntungkan untuk pemanfaatan tanah, terutama jika kedelai atau kacang tanah tidak bisa tumbuh. Selain lebih tahan kering, kacang hijau juga berumur relatif pendek. Hal ini juga sangat menguntungkan dalam pola tanam, terutama di tempat-tempat yang pengairannya kurang. Menurut hasil penelitian irri (international rice research institute), pengaruh dari masa tanam sebelumnya terhadap tanaman berikutnya (yang ditanam berturut-turut pada lokasi yang sama) adalah berbeda-beda. Hal ini perlu diperhatikan dalam penentuan tempat penanaman kacang hijau. Percobaan tersebut menggunakan tiga jenis tanaman, yaitu jagung, kacang hijau, dan kacang tunggak yang ditanam pada musim tanam berikutnya pada tempat yang sama dengan tanaman yang sama. Hal ini disebut allelopati dan sampai saat ini belum dapat diketahui penyebabnya. Penurunan hasil tersebut sangat nyata jika diban¬dingkan dengan kacang hijau dan kacang tunggak yang ditanam setelah jagung. Pergiliran tanaman (rotasi tanaman) disebut juga sebagai pola tanam. Pada lahan yang berbeda, pola tanam kacang hijau ber¬beda pula. Berikut ini diberikan beberapa alternatif pola tanam di lahan kering (tegalan), sawah tadah hujan, dan sawah. 1. Lahan kering (tegalan) pada lahan kering (tegalan), kacang hijau ditanam pada akhir musim hujan (februari—april). Kacang hijau ditanam sebagai tanaman kedua setelah padi gogo atau tanaman lain. Di tingkat petani, terdapat beberapa alternatif pola tanam, yaitu sebagai berikut. Padi gogo—kacang hijau jagung—kacang hijau pagi gogo—kedelai—kacang hijau kedelai—kedelai—kacang hijau kacang tanah— kacang hijau 2. Lahan sawah tadah hujan pada sawah tadah hujan, kacang hijau ditanam setelah padi atau palawija lainnya. Namun, di daerah dengan curah hujan kecil di awal musim hujannya, kacang hijau ditanam sebagai tanaman pertama sebelum tanaman lainnya. Pola tanam kacang hijau di lahan sawah tadah hujan adalah sebagai berikut. Kacang hijau—padi—jagung/kacang tanah kedelai—padi—kacang hijau. Padi gogo—kacang hijau 3. Lahan sawah penanaman kacang hijau di lahan sawah biasanya dilakukan pada akhir musim kemarau (juli—september), yaitu sebagai ta¬naman ketiga. Pola tanamnya sebagai berikut. Padi—padi—kacang hijau padi—jagung—kacang hijau. Padi—kedelai—kacang hijau kacang hijau bering ditanam secara tumpang sari dengan jagung pada lahan sawah beririgasi, rotasi tanaman pada umumnya adalah padi—padi—kacang hijau. Beberapa petani di jawa timur menanam kacang hijau dicampurkan pada tanaman kedelai di lahan sawah mengikuti polar padi—(kedelai + kacang hijau)¬(kedelai + kacang hijau). Pada lahan tegalan, kacang hijau sering ditanam secara tumpang sari dengan jagung atau tanaman ubi kayu. Penggunaan masukan (input) untuk kacang hijau pada umum¬nya sangat minimal karma petani menanam kacang hijau dengan cara yang masih sederhana: tanpa pengolahan tanah, benih dibeli dari pasar yang tingkat kemurniannya diragukan, cara tanam be¬nih disebar, penyiangan minimal, dan tanpa pengendalian hama. Dengan cara tanam seperti itu, hasil yang diperoleh akan mem¬berikan keuntungan bagi petani. Hasil kacang hijau secara nasional sekitar 0,70 ton/ha tampaknya terlalu besar bagi sebagian besar petani kacang hijau di indonesia. C. Penyiapan lahan kacang hijau banyak ditanam setelah tanaman padi. Pena¬namannya dilakukan dengan atau tanpa pengolahan tanah. Namun, untuk mengoptimalkan produksi, penggarapan tanah merupakan faktor utama, terutama untuk tanah padat (berat). Penggarapan tanah akan membantu perkecambahan biji yang nantinya akan mempengaruhi ketepatan dan keseragaman masak. Pengolahan tanah harus dilakukan dengan benar. Agar ke¬lembapan tanah menjadi ideal. Pembajakan hanya dilakukan bila tanahnya tidak terlalu basah. Jika pembajakan dilakukan pada saat tanahnya basah maka struktur tanah menjadi rusak. Setelah tanah dibajak atau dicangkul, selanjutnya digaru atau dicangkul lagi untuk menghancurkan clan meratakannya. Setelah itu dibuat saluran-saluran untuk pengairan atau drainase. Hasil percobaan dari kebun percobaan kuningan, cirebon, menunjukkan bahwa tanah yang dibajak dan digaru dua kali memberikan hasil tertinggi. Meskipun demikian, kebanyakan petani menanam kacang hijau sebagai tanaman palawija di sawah (sesudah padi) tanpa pengolahan tanah. Hal ini untuk mengejar waktu dan konservasi air tanah. D. Inokulasi bakteri rhizobium kacang hijau termasuk tanaman leguminosae yang memiliki bintil akar. Di dalam bintil-bintil akar ini terdapat bakteri rhizobium yang dapat mengikat nitrogen (n) dari udara. Peristiwa penam¬bahan nitrogen ini dikenal dengan nama penambatan n secara simbiosis (secara hayati). Selanjutnya nitrogen digunakan oleh tanaman untuk memenuhi kebutuhan n (nitrogen) bagi daerah yang biasa ditanami kacang hijau, dengan sen¬dirinya tanahnya banyak mengandung bakteri rhizobium. Oleh karena itu, untuk penanaman selanjutnya tidak perlu menda¬tangkan rhizobium lagi. Untuk daerah yang belum pernah di¬tanami kacang hijau, perlu dilakukan inokulasi bakteri sebelum dilakukan penanaman. Inokulasi bakteri dilakukan dengan cars benih kacang hijau diletakkan di suatu tempat, lalu disemprot dengan sedikit air dan diaduk. Kemudian inokulumnya disebar dan diaduk dengan biji secara merata clan setipis mungkin. Hal ini dilakukan pada saat hari itu juga, sebelum penanaman. Benih dijaga jangan sampai terkena sinar matahari langsung karena dapat mematikan bakteri. Ticlak semua bintil akar efektif mengikat nitrogen. Bintil akar yang efektif umumnya membesar, berwarna agak merah muda di bagian dalamnya, dan banyak terdapat tudung akar berta cabang akar utama. Bintil akar yang tidak efektif berbintil kecil, berwarna agak putih, dan banyak terdapat pada akar samping. E. Penanaman penanaman kacang hijau secara monokultur ataupun turn-pang sari sebaiknya dilakukan pada musim yang tepat. Menjelang berakhirnya musim hujan (musim marengan, april-mei) merupa¬kan waktu yang paling baik. Pada waktu penanaman, jarak tanam harus diperhatikan. Dengan jarak tanam yang tepat, sinar matahari akan dimanfaatkan secara optimum oleh tanaman kacang hijau dalam proses fotosin¬tesisnya. Jarak tanam yang optimum untuk kacang hijau dipenga¬ruhi oleh tipe varietas atau tipe tumbuh dan musim tanam. Jarak tanam kacang hijau umumnya dibuat panjang 20-30 cm clan lebar 10-20 cm. Populasi tanaman juga berpengaruh besar terhadap produksi. Pada musim hujan, populasi tanaman yang baik antara 300.000¬400.000 tanaman/ha (jarak antarbarisan 75 cm), sedangkan pada musim kemarau antara 400.000-500.000 tanaman/ha (jarak antar¬barisan 50 cm). Setiap lubang tanam sebaiknya diisi dua butir benih. Kebutuh¬an benih tiap hektar tergantung pada ukuran biji clan varietas yang ditanam, biasanya 15-25 kg/ha. Pada umumnya tanaman kacang hijau membutuhkan tanah yang cukup lembap untuk perkecambahannya, sedangkan untuk masa pertumbuhan pertama (masa vegetatif), hujan yang merata sangat diperlukan. Mulai saat masa pergantian dari masa vegetatif ke masa generatif hingga masaknya buah diperlukan iklim kering. Keadaan lembap yang terus-menerus tidak menguntungkan kare¬na mengurangi pembuahan (bunga rontok), mengakibatkan berke¬cambahnya biji dalam polong, dan mengundang serangan penyakit. F. Pengairan sifat kacang hijau yang menonjol dibandingkan dengan kedelai clan kacang tanah ialah relatif tahan terhadap, kekeringan. Oleh karena itu, daerah yang relatif kering (tidak cocok untuk kedelai clan kacang tanah) masih dapat ditanami kacang hijau. Meskipun demikian, tidak berarti kacang hijau tidak memerlu¬kan air. Air berguna sebagai pembentukan protoplasma, pelarut, me¬dia pengangkut hara, media berlangsungnya reaksi-reaksi metabo¬lisms, bahan baku fotosintesis, dan berpengaruh dalam fase pe¬manjangan serta proses pertumbuhan. Kurangnya air pada bel tanaman akan berpengaruh pada berbagai proses metabolisms, termasuk fotosintesis sehingga dapat mengganggu produksi kar¬bohidrat. Bila kekurangan air berlangsung terus-menerus akan mengakibatkan hancurnya protoplasma dan dapat mematikan tanaman. Pertumbuhan tanaman kacang hijau tidak akan normal bila tidak cukup air selama perkecambahan berlangsung. Pada umumnya biji akan mengisap air sampai kira-kira 50% dari beratnya. Air yang diisap tersebut harus tersedia dalam tanah. Kacang hijau memerlukan air sebanyak 100-150 mm pada bulan pertama setelah tanam (masa vegetatif). Pada masa generatif, jumlah air yang diperlukan lebih kecil. Sifat ini memungkinkan kacang hijau sangat potensial untuk ditanam pada lahan sawah clan lahan tegalan pada akhir musim kemarau karena kacang hijau berumur pendek sekitar 60 hari. Kacang hijau yang ditanam di sawah perlu menclapat peng¬airan apabila tidak turun hujan selama satu minggu. Pengairan ini diberikan sampai satu minggu menjelang panen. Air dimasukkan melalui parit dan tidak boleh lama menggenang karena kacang hijau tidak tahan genangan air. Pada masa pertama pertum¬buhannya pengaturan kelembapan tanah sangat penting. G. Pemupukan tanaman kacang hijau biasanya tidak tanggap terhadap pupuk nitrogen (n) seperti urea, terutama apabila ditanam di tanah subur clan ada bakteri bintil akar yang aktif. Hal ini terjadi karena kacang hijau pada umumnya dapat mengikat n dari udara bebas oleh bakteri rhizobium yang terdapat di dalam bintil akar tanaman. Penempatan pupuk dalam tanah dapat mempengaruhi perkecambahan benih, pertumbuhan tanaman, dan efisiensi penggunaan pupuk oleh tanaman. Pemberian pupuk pada lajur/ larikan pemupukan pada populasi yang ditanam dengan jarak tanam teratur serta cara tanamnya ditugal. Pemupukan dapat disebar merata pada setiap, larikan benih atau ditugal dekat lubang benih yang ditanam. Pemberian pupuk lengkap n (urea), p (tsp atau sp-36), k (zk/kci), dengan dosis 50 kg urea + 50 kg tsp + 50 kg kci per hektar akan cukup, memberikan pertumbuhan yang baik bagi tanaman. Perlu dijaga agar pupuk yang diberikan ticlak kontak langsung dengan benih karena dapat mengakibatkan kerusakan benih dan menghambat perkecambahan. Pupuk di¬berikan pada lajur/larikan tempat benih sedalam 5 cm kemudian ditutup dengan tanah sampai rata. Pada umumnya petani tidak melakukan pemupukan pada tanaman kacang hijau yang ditanam di lahan bekas tanaman padi. Unsur hara diharapkan terpenuhi dari residu pupuk yang diberikan pada tanaman padi. H. Teknologi produksi benih benih kacang hijau yang digunakan pada dasarnya harus baik clan bermutu tinggi. Benih yang baik dan bermutu tinggi akan menjamin penanaman tumbuh baik dan hasil panen yang tinggi. Benih yang bermutu ditandai oleh 1) tingkat kemurnian clan nama varietas, 2) daya tumbuh lebih dari 80% clan vigornya bagus, 3) biji bernas, ticlak keriput, dan dipanen dari tanaman yang sehat dan telah matang, 4) bersih clan ticlak tercampur dengan biji yang telah rusak/ tanaman lain, atau biji rerumputan. Kemurnian benih dapat dipertahankan dengan 1) jaminan kebenaran nama varietas, 2) kejelasan sumber varietas, 3) legalitas sumber varietas, 4) tingkat kemurnian varietas asal, 5) penanaman pada bekas tanaman lain (selain kacang hijau), 6) penanaman dengan jarak tanam teratur, 7) pembebasan lantai femur, cara pembijian, dan wadah benih dari jenis/tanaman lain, 8) pem¬bersihan dari jenis tanaman/varietas lain yang ditemukan pada waktu tanaman masih tumbuh di lapang. Benih bermutu dapat dihasilkan melalui cara budi daya yang memenuhi persyaratan produksi benih. Budi daya kacang hijau untuk tujuan produksi benih tidak terlalu jauh berbeda dengan budi daya untuk tujuan konsumsi. Beberapa teal yang perlu diperhatikan antara lain menyangkut persiapan lahan dan sortasi/ seleksi biji. 1. Persiapan lahan pemilihan lahan dan jenis tanah untuk penangkaran benih kacang hijau hendaknya memiliki persyaratan sebagai berikut. A) cukup gembur dan mempunyai kapasitas menahan air. B) drainase cukup baik. C) tingkat keasaman (ph) tanah 5,5-6,5 (kacang hijau tidak tahan tumbuh pada ph relatif tinggi maupun pada ph ren¬dah kurang dari 5,5. D) lokasi berupa dataran rendah, seperti jalur pantura, sampai ketinggian sekitar 500 m dpl. E) lahan toleran terhadap kekeringan, tetapi curate hujan sekitar 700-900 mm/tahun. F) suhu udara sekitar 28-30° c. G) 9- lahan bukan bekas pertanaman kacang hijau sebelumnya (musim sebelumnya) agar terhindari dari percampuran varie¬tas maupun pengaruh allelopati (pertumbuhan tanaman kerdil dan hasil turun drastis pada kacang hijau yang dita¬nam sebagai tanaman kedua). H) h. Lokasi disetujui oleh bpsb dan memenuhi syarat sertifikasi benih. Setelah ditemukan lokasi yang sesuai, tanah diolah secara sempurna. Namun, khusus untuk lahan sawah tertentu, misalnya lahan sawah jalur pantura, bisa tanpa pengolahan tanah. Petakan clan saluran antarpetak mutlak dibuat bila sistem pengairan dari irigasi. Untuk mencegah kelembapan tanah yang terlalu tinggi, petak dibuat dengan lebar 3-3,5 m, panjang petak mengikuti panjang lahan. Saluran air dibuat dengan lebar 20-30 cm, se¬dangkan kedalaman saluran atau ketinggian petakan 20-30 cm. 2. Sortasi dan seleksi biji sortasi biji dilakukan secepatnya setelah pengeringan atau bersamaan dengan saat pengeringan. Biji ditampi atau diayak un¬tuk memisahkan benih berkualitas bagus dan jelek. Biji yang bernas dan baik dipisahkan, kotoran biji dan biji yang jelek dipisahkan pula. Biji yang baik hasil penyortiran segera dikumpulkan dan disimpan di tempat terpisah. Seleksi biji dapat dilakukan bersamaan dengan saat melaku¬kan sortasi. Biji yang berbeda bentuk maupun warnanya dibuang. Bentuk biji dibedakan menjadi biji bulat (globose), bulat telur/oval (ovoid), dan bentuk drum (drum-shaped), dan lainnya. Sementara warna biji dibedakan menjadi hijau kuning mengilat, hijau buram, hijau kekuningan, kuning, cokelat, dan lainnya. Kualitas produksi kacang hijau secara kuantitas maupun kualitas sangat dipengaruhi oleh keberadaan gulma, hama, maupun penyakit. Untuk itu, pengendalian perlu dilakukan secara dini. Hama dan penyakit jika tidak disiangi, gulma dalam pertanaman kacang hijau dapat mengurangi kualitas dan kuantitas produksi 1. Gramineae: eleusine indica, cynodon dactylon, setaria harbata, panecum listecen, eragrotis uniloides, clan asconopus compresses 2. Cyperaceae: cyperus rotundus. 3. Rumput berdaun lebar: ageratum conywides, boreira latifolia, commelina nudif?Bra, eleutheranthera ruderalis, mimosa invisa, drymarta hirsuta, boreira leavis, dan ageratum maxicanum. Penggunaan herbisida pada kacang hijau belum tersedia data secara detail sehingga masih diperlukan penelitian lebih mendalam. Penggunaan herbisida di tingkat petani belum dilakukan, minimal untuk sebagian besar wilayah (petani). Beberapa penyebabnya antara lain 1) harganya tidak terjangkau etch petani, 2) tidak tersedia di lokasi/wilayah/areal pertanaman, 3) kurang pengeta¬huan penggunaan herbisida, dan 4) mungkin kurang mengun¬tungkan. Sebagai gantinya, petani cukup menyiang secara me¬kanis. Penyiangan biasanya cukup dua kali, yaitu pada umur seki¬tar 20 hst clan menjelang/awal berbunga, sekitar 35 hst. Penyiangan jangan dilakukan pada saat tanah terlalu basah kare¬na dapat merusak struktur tanah. A. Hama usaha budi daya kacang hijau banyak mengalami kegagalan terutama karena serangan hama. Hama kacang hijau sering me¬nyerang tanaman yang masih di lahan atau menyerang biji yang telah disimpan di guclang. Berikut ini adalah beberapa hama penting yang sering menyerang tanaman kacang hijau. 1. Lalat kacang (agromyza phaseoli coq.) Gejala gejala awal berupa bercak-bercak pada keping biji atau daun pertama. Bercak ini merupakan tempat peletaka telur. Se¬lanjutnya, terlihat liang gerek pada keping biji atau daun pertama. Ketika polong yang diserang gugur, larva sudah berada di dalam batang. Pada saat larva telah berada di pangkal akar, daun mulai layu clan kekuning-kuningan. Tanaman akan coati setelah berumur 3-4 minggu. Jika tanaman tersebut dicabut akan didapati larva, pupa, atau kulit pupa di antara akar dan kulit akar. Tanaman yang terserang dan masih tetap hidup menampakkan akar-akar adventif di bagian terbawah dari batang. Sejauh yang diketahui, serangannya ticlak sehebat pada tanaman kedelai. Hal ini disebabkan karena keping biji kacang hijau yang masih muda mudah rontok ketika diserang sehingga ticlak memberi kesempatan pada serangga tersebut untuk bertelur. Penyebab lalat kacang (agromyza phaseoli caq.) Sebagai penyebab. Tubuhnya kecil dan berwarna hitam mengilap. Perkawinannya (kopulasi) biasa terjadi antara pukul 09.00-10.00 pagi. Waktu matahari bersinar terik, lalat ini bersembunyi di dalam rumput di dekat tanaman kacang hijau. Lalat kacang bertelur pada pagi hari. Telurnya diletakkan pada keping biji atau pada daun pertama. Setelah telur menetas, belatungnya menggerek dan memakan keping biji atau daun sehingga terbentuk jiang. Belatung ini akan terns menggerek ke tangkai daun dan masuk ke dalam batang sampai pangkal akar. Kepompong atau pupanya berwarna cokelat kuning. Pada setiap batang tanaman yang diserang rata-rata terdapat 4-5 pupa. Pengendalian pengendalian dapat dilakukan dengan menggunakan musuh alami agromyzae dodd, eurytoma poloni, eurytoma sp., clan cynipid. Selain itu, dapat pula dilakukan penyemprotan insek¬tisida pada pagi hari, pada saat umur tanaman 4-10 hst. 2. Penggerek polong (etiella zinckenella tr.) Gejala gejala serangannya terlihat pada kulit polong berupa bercak hitam dan bila dibuka terdapat larva yang gemuk dengan kotoran¬kotorannya berwarna hijau basah. Serangan pada polong kedua ditandai dengan satu lubang gerek yang bentuknya bundar. Penyebab hama penyebabnya adalah penggerek polong (etiella zinc¬kenella tr.). Penggerek polong kacang hijau sama dengan penggerek polong pada kedelai. Larva yang barn menetas menggerek masuk ke dalam polong menuju ke bagian bawah. Larva ini memakan biji di dalam polong sampai habis kemudian berpindah ke polong lain. Bentuk larvanya gemuk dan licin, larva yang masih kecil berwarna merah kebiru-biruan. Pengendalian hama ini dapat dikendalikan dengan cara mengatur waktu tanam yang tepat, pergiliran tanaman, dan upaya penanaman secara serentak. Dapat juga dilakukan penyemprotan insektisida dekametrin, sihalotrin, dan monokrotofos. 3. Ulat jengkal kedelai (plusia chalcites esp.) Gejala ulat ini menyerang tanaman yang sudah agak tua dan memakan daunnya sehingga tinggal tulangnya saja. Penyebab hama penyebabnya adalah ulat jengkal kedelai (plusia chal¬cites esp.). Tubuhnya berwarna hijau. Bentuk dewasanya berupa kupu-kupu. Telur kupu-kupu ini diletakkan berkelompok sebanyak 50 butir. Stadium telurnya selama 3 hari. Larva tersebut akan menjadi kepompong di antara daun yang dianyam menjadi satu. Stadium pupanya selama 6 hari. Pengendalian pengendalian secara mekanis dengan cara mengumpulkan telur dan larva, sedangkan secara kimiawi dengan insektisida dekametrin, sihalotrin, diflubenzuron atau monokrotofos. 4. Kepik padi hijau (nezara viridula) gejala polong muda isinya terisap. Bila polong dibuka tampak biji¬nya pipih tanpa isi. Bagian yang terserang tampak berbercak hitam. Penyebab hama penyerang adalah kepik padi hijau (nezara viridula). Kepik ini meletakkan telurnya yang berwarna kuning secara massal di permukaan bawah daun. Kelompok telurnya 5-10 butir. Stadium telurnya selama 6 hari. Setelah telur menetas, larvanya berkumpul di polong dalam kelompok besar. Stadium larvanya selama 30 hari. Masa pertumbuhan dari telur hingga dewasa selama 36 hari. Pengendalian pengendalian secara mekanis dengan mengumpulkan imago, telur, dan nimfa, sedangkan secara kimiawi dengan insektisida metamidofos dan karbaril. Selain itu, dapat juga dilakukan de¬ngan penanaman serempak dengan kisaran waktu tidak lebih dari 26 hari. 5. Thrips sp. • gejala serangan hama ini menyebabkan daun menggulung ke dalam (keriting) karena sel-sel di bagian atasnya mengerut. Penyebab kutu thrips menyerang tanaman dengan mengisap cairan tanaman sehingga mengganggu proses fotosintesis dan mengaki¬batkan menurunnya hasil. Penurunannya dapat mencapai 60%, bahkan tidak menghasilkan sama sekali (puso) bila serangannya berat. Pantas jika hewan ini merupakan hama yang paling berba¬haya bagi tanaman kacang hijau. Selama fase vegetatif tanaman, serangan hama ini sangat rendah. Pengendalian pengendalian dengan menggunakan insektisida metamidofos, karbaril, atau monokrotofos. Sebanyak 1 g per liter air kemudian disemprotkan pada tanaman scat berumur 3 minggu atau dengan ben/ate 50 wp sebanyak 0,5 g per liter air disemprotkan dengan interval 10 hari pada umur 30-50 hari. 6. Kumbang callosobruchus gejala kumbang ini meletakkan telurnya pada permukaan polong atau biji kacang hijau. Larva yang barn menetas langsung meng¬gerek masuk ke dalam biji clan memakan kotiledon berta bagian biji lainnya. Penyebab kumbang calloso-bruchus maculates yang menyerang biji. Siklus hidup kumbang ini, pada biji kacang hijau varietas mb 129, berlangsung antara 23-28 hari. Kemampuan bertelur kumbang betina antara 40-90 butir. Persentase telur yang dapat menetas hingga menjadi dewasa sebesar 19-98%. Perbandingan antara jantan dewasa clan betinanya 1 : 1. Pengendalian biji sebaiknya disimpan dalam kantong plastik, karung plas¬tik, atau kaleng yang tertutup rapat. Biji atau benih yang akan disimpan hares berkadar air rendah dalam kemasan kedap udara. Kadar air biji 90% dalam kemasan dapat mempertahankan biji selama 6 bulan. Cara lain yaitu dengan melakukan fumigasi de¬ngan aluminium fosfit atau metil bromida atau dengan penyem¬protan insektisida berbahan aktif pirimiphos metil, femitrothion, atau metacrifos pada permukaan kemasan. B. Penyakit penyakit yang menyerang tanaman kacang hijau umumnya disebabkan oleh cenclawan atau virus. Berikut ini jenis penyakit utama yang menyerang kacang hijau. 1. Bercak daun cercospora gejala pada helai daun timbul bercak cokelat mucla sampai tua di tepinya, sedangkan di tengahnya berwarna abu-abu. Bercak ini berbentuk ticlak teratur sampai bulat dengan ukuran bervariasi. Bercak ini dapat menyatu sehingga bertambah besar clan meng¬akibatkan daun mengering dan rontok. Ukuran polong clan biji menyusut. Di lapangan, gejala penyakit ini timbul pada umur 30-35 hst. Penyebab cendawan cercospora canesens. Pengendalian pengendalian dilakukan dengan penanaman varietas unggul yang tahan penyakit tersebut atau dengan menggunakan fungisida benlate 50 wp sebanyak 0,5 g per liter air pada waktu tanaman berumur 30 clan 40 hari. 2. Embun tepung gejala gejala yang tampak berupa bercak cokelat yang tertutup oleh tepung berwarna putih. Gejala ini dapat timbul pada seluruh bagian tanaman kecuali akar. Serangan yang hebat menyebab¬kan daun menjadi kering dan rontok, polong ticlak terbentuk. Jika polong telah terbentuk maka pertumbuhannya terhenti clan menghasilkan biji yang kecil. Penyebab cendawan erysiphe polvgon. Pengendalian selain dengan menanam varietas yang tahan, penyakit ini da¬pat dikendalikan dengan menggunakan fungisida benlate 50 wp karat daun gejala mula-mula muncul bercak kecil berwarna terang pada kedua permukaan daun. Dalam beberapa hari, bercak berubah menjadi bintil berwarna cokelat kemerahan sebesar jarum yang dikelilingi oleh daerah berwarna kuning. Daun yang terinfeksi parch akan mengering kemudian rontok. Penyebab cendawan uromyces sp. Pengendalian pengendalian paling sederhana yaitu dengan menanam varie¬tas yang tahan terhadap penyakit tersebut. Selain itu, dapat pula dengan menggunakan fungisida dithane m-45 atau. Bayleton sebanyak 2 g atau 2 cc per liter air pada umur 25 hari, 35 hari, clan 45 hari. 3. Kudis gejala serangan yang berat dapat mengakibatkan daun muda yang terinfeksi menjadi keriting dan tanaman menjadi kerdil. Penyakit ini dapat menyerang daun, batang, atau polong. Cv- serangan pada daun berupa bercak cokelat sampai cokelat kemerahan, di sekeliling bercak sering tampak klorotis. Selanjutnya, bagian tengah bercak menjadi abu-abu dan berlubang, umumnya berada di sekitar tulang daun. Serangan pada batang berupa bercak bulat abu-abu sampai putih keabu-abuan di tengah dan dikelilingi batas yang cokelat kemerahan. Serangan pada polong muda berupa bercak cekung, bulat panjang, atau tidak beraturan. Warnanya cokelat tua sampai cokelat kemerahan dan tengahnya abu-abu. Bila polong masak, warnanya berubah menjadi lebih muda. Penyebab cendawan elsinoe iwatae. Pengendalian selain dengan penanaman varietas yang tahan, pengendalian dilakukan dengan fungisida bavistin, benlate, clan topsin m se¬banyak 0,4 kg dan 1 kg per hektar per aplikasi pada waktu tanaman berumur 20 hari, 30 hari, clan 50 hari. 5. Rhizoctonia gejala kecambah rebah, pada bibit timbul bercak kemerahan pada pangkal batang dan akar, sedikit di bawah permukaan tanah. Se¬lanjutnya, bercak melebar menjadi cekung, dan tanaman coati. Cendawan ini juga dapat menyebabkan daun membusuk. Mula¬mula timbul bercak cekung kecil kemudian melebar sehingga daun beserta tangkainya membusuk berwarna cokelat kehitaman. Penyebab rhizoctonia solani. Pengendalian perbaiki drainase dengan membuat guludan dan selokan se¬hingga tanah tidak terlalu basah. Gunakan fungisida untuk pera¬watan benih. Pengendalian secara biologis dengan memberi biak¬an jamur trichoderma harzianum berumur 1 minggu pada pang¬kal batang untuk menghindari rebah kecambah. 6. Belang bangkas kacang hitam gejala daun belang, tulang daun menjadi kekuningan, dan terjadi distorsi bentuk daun. Penyebab virus belang bangkas kacang hijau atau black gram mottle virus (bgmv). Pengendalian pengendalian dengan menanam varietas yang tahan, mencabut dan membakar tanaman yang terserang, atau dengan insektisida untuk memberantas serangga vektor di lapangan. Gejala luka nekrotis pada daun yang terinfeksi, mosaik sistemik, distorsi bentuk daun. Penyebab virus mosaik kuning atau bean yellow mosaic virus (bymv). Pengendalian pengendalian dengan menanam varietas tahan, melakukan pergiliran tanaman, atau dengan insektisida pembunuh serangga vektor. 8. Mosaik kacang hijau gejala tanaman menjadi kerdil, mosaik sistemik, dan belang sistemik. Penyebab virus misaik kacang hijau atau mungbean mosaic virus (mmv). Pengendalian pengendalian dengan cara menanam varietas tahan, melaku¬kan pergiliran tanaman, mencabut dan membakar tanaman sakit, dan menggunakan insektisida pembunuh serangga vektor. Bab vi penanganan panen dan pasca panen panen dan perlakuan pascapanen merupakan salah satu tahap dalam proses produksi yang akan mempengaruhi produksi clan kualitas. A. Panen waktu untuk pemanenan kacang hijau perlu diamati pada minggu terakhir umur tanaman. Panen dapat dilakukan jika po¬long pada setiap tanaman sebagian besar telah kering dan mudah dipecah. Warna polong yang telah kering ada dua macam: hitam clan cokelat. Polong kacang hijau dipanen dengan cara dipetik. Pemetikan dilakukan ketika tanaman masih berada di lahan penanaman. Pemanenan ini harus dilakukan dengan cepat untuk mencegah pecahnya polong di lahan. Oleh karena itu, apabila keadaan cuaca cukup baik, artinya tidak mendung/hujan, sebaiknya panen dila¬kukan pada waktu pagi sampai tengah hari. Panen jangan dilaku¬kan pada tengah sampai sore hari untuk mencegah polong pecah. B. Pengelolaan pascapanen 1. Pengupasan polong sebelum dikupas, polong yang telah dipanen dijemur di atas lantai penjemuran langsung di bawah sinar matahari. Pada waktu penjemuran, diusahakan supaya varietas yang satu tidak tercam¬pur dengan varietas yang lain (jika menanam berbagai varietas) setelah kering, polong dikupas. Caranya, polong tersebut dimasukkan ke dalam karung lalu ditebah. Setelah biji kacang hijau terlepas dari polong lalu ditampi untuk memisahkan biji dan kulitnya. Biji yang telah terpisah dari kulitnya juga harus dibersihkan dari q sisa kotoran, q biji-bijian yang tercampur atau terbawa, q biji yang rusak (baik karena hama/penyakit atau karena proses pengupasan polong), q biji yang bentuk warnanya berbeda, dan q biji yang mengerut. Rangkaian proses ini dimaksudkan untuk memperoleh biji yang bersih, sehat, dan murni. Secara ringkas proses ini merupa¬kan rangkaian kegiatan yang terdiri dari pembersihan (cleaning), pemisahan dari campuran (separating), dan bila perlu juga pemi¬sahan menurut bentuk dan besarnya biji (sizing). Rangkaian ke¬giatan ini dapat dilakukan secara sederhana atau menggunakan mesin. 2. Pengeringan setelah diperoleh biji yang bersih, biji tersebut lalu dijemur lagi selama 2-3 hari hingga kadar airnya tinggal 10-12%. Proses pengeringan ini berhubungan dengan viabilitas (kemampuan hidup) benih yang dikeringkan. Sebelum disimpan, hendaknya biji telah kering tetap. Untuk mencapai kering tetap, bibit dijemur beberapa kali sampai berat¬nya tidak berubah lagi. Dalam praktek sehari-hari untuk menge¬tahui biji yang telah cukup kering dilakukan dengan cara menggi¬git biji tersebut. Jika berbunyi keras maka biji tersebut dianggap telah cukup kering. Selain dengan cara alami seperti tersebut, pengeringan juga dapat dilakukan dengan cara dryer. 3. Penyimpanan biji yang telah dikeringkan dengan kadar air yang cukup rendah, siap untuk disimpan. Selama dalam penyimpanan, biji kacang hijau mudah dirusak oleh bruchus rubens. Untuk mence¬gah kerusakan itu, biji yang disimpan harus bersih. Sanitasi juga perlu dilakukan untuk mencegah kerusakan selanjutnya. Untuk keperluan benih, biji yang telah disortir tadi disimpan dalam kaleng benih. Sebelurn, kaleng ditutup, dianjurkan diberi abu dapur kering atau insektisida sebagai penolak hama bubuk. Sete¬lah itu, kaleng harus ditutup rapat sehingga udara dapat masuk. Benih yang disimpan memerlukan oksigen untuk bernapas. Dari proses pernapasan ini akan dihasilkan energi. Jika digunakan untuk perkecambahan benih, energi ini tidak terbuang. Namun, jika benih belum siap berkecambah maka energi akan berubah menjadi panas. Keluarnya energi dalam bentuk panas ini menye¬babkan benih kehabisan tenaga dan tidak dapat tumbuh. Selain itu, panas yang timbul dapat meningkatkan suhu di sekitar benih sehingga menjadi tempat yang cocok untuk pertumbuhan jasad renik. Untuk mencegah penghamburan energi oleh benih, oksigen (02) dalam lingkungan benih diganti dengan gas nitrogen (n2) atau karbondioksida (co2). Kelembapan clan suhu udara dalam tempat penyimpanan juga harus rendah. Selain itu, benih harus benar-benar bermutu. Dengan memperhatikan hal ini, tenaga dan kecepatan tumbuh benih dapat dipertahankan selama dalam penyimpanan. C. Sistem pemasaran pemasaran produk harus menjadi perhatian dalam mengusa¬hakan tanaman kacang hijau. Untuk keperluan pemasaran, ter¬utama ekspor, mutu hasil sangat menentukan tingkat harga. Kenyataannya, kacang hijau yang diusahakan petani di indonesia masih sangat beragam kualitasnya. Salah satu penyebabnya adalah petani umumnya masih menanam varietas lokal. Ekspor kacang hijau indonesia sudah ada sejak tahun 1920, pada waktu itu diekspor ke singapura. Di samping ekspor, indo¬nesia juga mengimpor kacang hijau dari rangon. Jadi, jelaslah bahwa kacang hijau sudah sejak lama mempunyai andil dalam perekonomian nasional. Selama ini permintaan terhadap kacang hijau termasuk stabil karma penggunanya kontinu. Jenis olahan kacang hijau menurut urutan banyaknya pemakaian bahan diperkirakan seperti ini: kecambah, disusul oleh bubur, makanan bayi, kue, minuman, tabu, soup, tepung hunkue, sayuran, dan sup. Untuk pemasaran dalam negeri dikenal dua macam mutu kacang hijau, yaitu kacang hijau yang berbiji besar digunakan untuk membuat tepung clan bubur, sedangkan yang berbiji kecil untuk membuat taoge. Dengan mempertimbangkan jumlah penduduk indonesia yang telah mencapai lebih dari 200 juta orang maka potensi permintaan pasar terhadap kacang hijau cukup besar. Permintaan pasar ini belum mencapai titik jenuh sehingga masih terbuka peluang untuk meningkatkan lugs areal pertanaman kacang hijau dengan menggunakan varietas unggul clan cara budi daya yang benar.

Uptil now the request against mung beans including stable karma his user is continuous, the kind of the mung beans whim is according to the place of the number of uses of the material estimat like this: kecambah, is follow by the porridge, the baby 's food, the cake, the drink, the taboo, soup, flour hunkue, vegetables, and soup, for the domestic marketing are known by two quality sorts of mung beans, that is seedy mung beans big is us to make flour clan the porridge, whereas that had seeds small to make the bean sprouts, by considering the number of Indonesian inhabitants who reach more than 200 million people then the potential for the market request against quite big mung beans, this market request did not yet achieve saturation point so as still is open the opportunity to increase lugs the area pertanaman mung beans by using the superior variety clan the true cultivation method.

Source : yuerman kaharuddin